You are here
Home > Opini Media > Abdul Mu’ti, Sekum Muhammadiyah Yang Tak Segan Belajar Pada Nahdliyyin

Abdul Mu’ti, Sekum Muhammadiyah Yang Tak Segan Belajar Pada Nahdliyyin

Perspektif agama yang terbuka dan moderat menjadi hal penting bagi Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Meski berlatar belakang keluarga Muhammadiyah, Mu’ti tak segan belajar dari lingkungan masyarakat Nahdliyyin. 

Lahir dari keluarga petani dan guru mengaji di Desa Getassrabi, Kudus, Jawa Tengah, Mu’ti mendapat keleluasaan dari ayahnya untuk menimba ilmu dari masyarakat sekitar yang mayoritas NU. “Ayah saya bangga ketika saya menjadi ketua Jamiyyah Sabilul Khairat yang di antara kegiatan rutinnya adalah tahlilan, Yasinan, dan berjanjen (membaca al-Barzanji),” kenang Mu’ti. 

Kader yang kini menjadi unsur penting dalam pusaran inti persyarikatan Muhammadiyah itu menilai pengalaman-pengalaman yang ia alami telah membentuk sikap terbuka dan moderat dalam beragama.

Mu’ti berkisah, ayahnya pula yang telah memberikan dasar-dasar pendidikan Islam mulai dari rumah. Tak hanya itu, kedisiplinan, kerja keras, dan nalar kritis juga ia terima dari sang ayah. 

Tokoh kelahiran 2 September 1968 itu memulai pendidikan dari Madrasah Ibtidaiyah Manafiul Ulum, Madrasah Tsanawiyah Negeri, dan Madrasah Aliyah Negeri di Kudus. Setelah itu, Mu’ti melanjutkan studinya dan meraih gelar sarjana dari Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Semarang. Hijrah ke Negeri Kanguru, Mu’ti mendapatkan gelar master dari School of Education, Flinders University, South Australia. Gelar akademik terakhir yang ia raih adalah doktor di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Aktif di Muhammadiyah

Mu’ti mulai aktif di Muhammadiyah pada 1987. Ketika itu, ia pertama kali menjadi anggota dan pimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) komisariat Al-Faruqi IAIN Walisongo. Kiprahnya di Muhammadiyah terus berlanjut. Ia pun ikut menjadi pengurus di sayap pemuda Muhammadiyah. Ia dipercaya menjadi ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah sejak 2002 hingga 2006 dan melanjutkan estafet kepemimpinan dari nama-nama besar, seperti Din Syamsuddin dan Hajriyanto Thohari. 

Pada Muktamar Muhammadiyah 2010 di Yogyakarta, Mu’ti terpilih menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selama lima tahun kepengurusan, ia menerima amanah sebagai sekretaris. Kiprah Mu’ti di persyarikatan yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu terus meningkat. Pada Agustus lalu, dalam Muktamar Muhammadiyah di Makassar, tim formatur menunjuknya sebagai sekretaris umum PP Muhammadiyah. 

Mu’ti mengaku, studi S-2 di Australia merupakan hal penting dalam hidupnya. Selama merantau, katanya, ia tidak hanya mematangkan karier akademik, tetapi juga kepemimpinan dan membangun jejaring nasional dan internasional.

Sederet capaian gemilang telah Mu’ti raih. Meski begitu, seluruhnya ia kembalikan sebagai hasil dari proses panjang hidup dan dukungan yang ia terima. “Apa yang saya capai sekarang adalah buah dari pendidikan, doa orang tua, dan yang paling utama rahmat Allah SWT.”

Disarikan dari Republika.co.id

Madi
Bukan siapa-siapa. Sekadar berbagi, menampilkan sisi humor Muhammadiyah yang selama ini jarang terekspos.
Top
%d bloggers like this: