You are here
Home > Opini Media > Akal Sehat Menurut KH Ahmad Dahlan

Akal Sehat Menurut KH Ahmad Dahlan

Sekira setahun sebelum wafat, dalam Kongres Muhammadiyah pada bulan Desember tahun 1922, KH Ahmad Dahlan menyampaikan pidato sebagai berikut.

“Sesugguhnya tidak ada yang lain dari maksud dan kehendak manusia itu ialah menuju kepada keselamatan Dunia dan Akhirat. Adapun jalan untuk mencapai maksud dan tujuan manusia tersebut harus dengan mempergunakan akal yang sehat. Adapun akal yang sehat itu ialah yang dapat memilih segala hal dengan cermat dan pertimbangan, kemudian memegang teguh hasil pilihannya tersebut. Adapun akal manusia mempunyai watak dasar menerima segala pengetahuan, karena pengetahuan bagi akal adalah merupakan kebutuhannya.”

Kiai Ahmad Dahlan selanjutnya menyatakan:

“Akal itu bagaikan sebuah biji atau bibit yang terbenam dalam bumi, agar supaya bibit (akal) itu tumbuh dari bumi dan kemudian menjadi pohon yang besar, harus disiangi, disiram secara terus menerus. Demikian juga halnya dengan akal manusia, tidak akan tumbuh dan bertambah sempurna apabila tidak disirami dengan pengetahuan.

…Setinggi-tingginya pendidikan akal ialah pendidikan dengan Ilmu Mantiq (salah satu cabang Filsafat/ pen) ialah suatu ilmu yang membicarakan sesuatu yang cocok dengan kenyataan sesuatu itu.”

“Selanjutnya, agar akal manusia memperoleh kesempurnaan, dan agar supaya tetap pada keadaaanya sebagai akal, harus memenuhi enam hal sebagai berikut:
1. Dalam memilih berbagai perkara harus dengan belas kasih.
2. Bersungguh-sungguh dalam mencari.
3. Harus memilih secara jelas dan terang benderang. Banyak orang yang mencari sesuatu lalu mendapatkan sesuatu yang sesungguhnya harus ditolak karena bertentangan dengan kehendaknya semula, karena mencarinya sesuatu hanya dengan ikut-ikutan …dan hanya mengikuti adat istiadat saja.
4. Harus beri’tikad baik dalam menetapkan pilihan yang dicarinya dan tetap teguh dalam hati …
5. Harus dipelihara dengan baik barang yang diperolehnya, karena manusia itu bersifat alpa dan lena.
6. Dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, karena segala pengetahuan tidak akan bermanfaat apabila tidak dikerjakan sejalan dengan keadaan.”

Kiai Ahmad Dahlan dalam pidato tersebut menyatakan selanjutnya, “Sesungguhnya pengajaran yang berguna bagi akal manusia itu jauh lebih dibutuhkan oleh manusia daripada makanan yang mengisi perutnya. Pengajaran bagi manusia akan lebih cepat menambah besarnya akal dibandingkan dengan tambah besarnya badan oleh makanan. …sebenarnya mencari harta benda dunia itu lebih payah daripada mencari pengetahuan yang berfaedah dan memperbaiki perbuatan atau sikap dan tindakan.”

Sumber : Abdul Munir Mulkhan, Kiai Ahmad Dahlan Mengganti Jimat, Dukun, dan Yang Keramat Dengan Ilmu Pengetahuan Basis Pencerahan Umat Bagi Pemihakan Terhadap Si Ma’un dalam Marihandono, Djoko (ed), KH Ahmad Dahlan (1868 – 1923), Jakarta : Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 50 – 52.

Madi
Bukan siapa-siapa. Sekadar berbagi, menampilkan sisi humor Muhammadiyah yang selama ini jarang terekspos.
Top
%d bloggers like this: