You are here
Home > Anekdot > Anekdot Madura: Asal Bukan Muhammadiyah

Anekdot Madura: Asal Bukan Muhammadiyah

Madura memang tak ada matinya. Di pulau yang (konon) 99% penduduknya “beragama NU” ini punya banyak stok humor. Perantau dari Madura selain terkenal pekerja keras dan pantang menyerah, orangnya juga lucu dan humoris.

Lalu adakah orang Muhammadiyah di Madura? Tentu saja ada, meskipun tidak diketahui pasti berapa prosentasenya. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah saat ini, Sunanto, berasal dari Madura.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan pihak manapun, berikut sejumlah anekdot populer tentang Muhammadiyah dan Madura (dan tentu saja, “Agama NU”).

Diterima di Universitas Ahmad Dahlan

Selepas SMA, seorang pemuda Madura melanjutkan pendidikan ke Jogja. Sampai di Jogja menghubungi ibunya di Madura melalui telepon bahwa ia diterima di Universitas Muhammadiyah Yogya (UMY).

Tentu saja ibunya tidak setuju, “kuliah di kampus lain saja terserah asal jangan Muhammadiyah!” jawab ibunya. Seminggu kemudia ia menghubungi ibunya lagi mengabarkan bahwa diterima di Universitas Ahmad Dahlan, sang ibu menjawab “Nah, bagus itu. Setuju Ibu!”.

-mahfud ikhwan

Menantu Muhammadiyah (1)

Selesai kuliah, seorang pemudi Madura yang kuliah di Jawa menyampaikan keinginan pada orang tuanya untuk menikah. Karena dipandang sudah cukup umur, bapaknya tentu saja menyambut gembira. Lalu terjadilah dialog berikut.


Bapak: “Nak, nanti kalau menikah cari yang kuat agamanya.”
Anak: “Gimana maksudnya Pak?”
Bapak: “Ya harus nikah dengan yang sama-sama Islam”
Anak: “Klo dengan aktivis Pemuda Muhammadiyah gmn Pak?”
Bapak: “Loh, ga ad yang Islam kah, kok sama orang Muhammadiyah?

– haery fadly

Menantu Muhammadiyah (2)

Suatu saat, ada anak seorang Kiai NU yang kuliah di luar negeri. Di perantauan, si anak berpacaran dengan orang Yahudi. Kemudian mereka akan menikah. Lalu si anak pulang ke Indonesia untuk minta izin menikah kepada bapaknya.

“Pak, saya mau menikah…”
“Alhamdulillah… Memang seumuranmu sudah pantas menikah…”
“Tapi…” (Dengan nada ragu dan agak takut…)
“Kenapa?”
“Calon istri saya…”
“Kenapa?”
“Orang Yahudi….”

Si bapak diam sejenak. Lalu tersenyum dan berkata, “Alhamdulillah… Kukira calon istrimu orang Muhammadiyah…”

– puthut ea

Gereja Muhammadiyah

“Abang becak, nanti tolong turun gereja muka Madya ya! (Kantor Kotamadya)”
“Bo abo, dokrema. Mana ada Gereja Muhamadiyah?”

– nugarislucu

*dirangkum dari berbagai sumber


Madi
Bukan siapa-siapa. Sekadar berbagi, menampilkan sisi humor Muhammadiyah yang selama ini jarang terekspos.
Top
%d bloggers like this: