You are here
Home > Netijen Sharing > Kulit Pisang di Halaman Masjid

Kulit Pisang di Halaman Masjid

Nuri, Tarno, dan Harto sedang bercengkerama di depan Masjid Taqwa selepas sholat shubuh berjamaah. Usut punya usut ternyata pagi itu disediakan sarapan gratis bagi yang mau sholat shubuh berjamaah. Tiba-tiba, ada orang yang entah dengan sengaja atau tidak, membuang kulit pisang di halaman masjid. Terlibatlah ketiganya dalam diskusi hangat menyikapi permasalahan itu.

Nuri, membuka percakapan, “Astaghfirullah, ada orang yang membuang sampah sembarangan. Mungkin dia tidak tahu kalau ada tempat sampah di pojok sana. Sebaiknya Kita maafkan.”

Tarno menimpali, “Tindakannya bisa membahayakan orang lain, menurutku minta maaf saja tidak cukup. Kemanapun dia pergi harus Kita kejar. Tunggu sampai Saya ketemu dengan pelakunya, pokoknya dia harus bertanggung jawab!”

Harto tidak mau kalah dengan dua sahabatnya, “Kalau Islam berkuasa, tidak mungkin dia berani membuang sampah sembarangan, apalagi di halaman Masjid!” Pekik Harto bersemangat.

Sejurus kemudian terdengar suara takmir memanggil semua jamaah untuk sarapan bersama. Nuri, Tarno dan Harto bergegas menuju sumber suara untuk sarapan bersama. Diskusi seru pun berakhir dengan hasil kulit pisang masih ada di halaman.

Tergopoh-gopoh mendengar pengumuman takmir, Madi berlari dari rumahnya menuju Masjid. Meskipun kesiangan dan ketinggalan jamaah subuh, Madi nekat ke Masjid karena tidak mau melewatkan sarapan gratis.

Melihat ada kulit pisang di halaman, Madi segera mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. “Ini tadi siapa sih yang membuang kulit pisang di halaman Masjid, hari gini kok masih buang sampah sembarangan!” Gerutu Madi sambil bergegas bergabung bersama ketiga sahabatnya yang sudah sarapan duluan.

Madi
Bukan siapa-siapa. Sekadar berbagi, menampilkan sisi humor Muhammadiyah yang selama ini jarang terekspos.
Top
%d bloggers like this: