You are here
Home > Netijen Sharing > Relasi Muhammadiyah dengan Hantu

Relasi Muhammadiyah dengan Hantu

Apa yang harus dilakukan kepada hantu dan segala hal tentangnya?

Orang Salafy dan Tarbiyah akan menjawab: “Usir! Bacakan ayat-ayat ruqyah!”

Orang NU akan menjawab: “Dirembuk dulu baik-baik. Ajak komunikasi. Tanya maunya apa, kalau bisa dia nggak mengganggu lagi.”

Orang Muhammadiyah akan menjawab: “Hantu? Dhemit? Halahhh mbweeel…!”

***

Suatu ketika, saya iseng nemu video penampakan hantu yang katanya berlokasi di Pantai Pacitan. Maka pada suatu malam Jumat, saya kirimkan video itu ke beberapa teman. Salah satunya adalah Lya Fahmi, psikolog muda Muhammadiyah yang namanya mulai berkibar.

Sejujurnya saya berharap Lya akan berkomentar, “Aaah njelehi kowe Maaas! Ogah ah lihat yang serem-serem gituu!”

Tapi ternyata ekspektasi kebudayaan yang saya pancangkan itu terlalu tinggi.

“Opo itu Mas? Hantu ya? Kalo maksudmu mau bikin aku takut, kamu salah orang. Keluargaku itu Muhammadiyah kenceng. Sejak kecil aku diajari untuk nggak peduli sama hantu-hantuan. Malah aku melihat orang yang berurusan dengan hal-hal gituan itu kuno bangettt. Terbelakang!”

Saya mak-cleguk. Tapi kemudian saya berusaha melihat diri saya sendiri. Lya memang benar sekali.

Ya, keluarga saya Muhammadiyah kenceng juga, meski baru dimulai pada generasi bapak saya. Saya sendiri memiliki sedikit ketertarikan kepada hal-hal gaib, barangkali karena kakek saya seorang abangan, yang waktu saya kecil masih sering saya lihat pamer pusaka dan bakar kemenyan.

Namun, meski Simbah seorang Kejawen yang sangat bersemangat kalau bercerita tentang pengalaman-pengalaman supranatural, bapak saya ada di kutub yang sangat berlawanan dengannya.

Ini bukan lagi sekadar perkara akidah. Ini soal paradigma yang lebih luas lagi.

“Halah opo. Dhemit ki ora ono! Hantu itu tidak ada!” Demikian kata almarhum Bapak, tentu semasa saya kecil.

Kalau dipikir-pikir, saya heran juga. Kenapa begitu? Bukankah sudah secara jelas dalam Alquran awal Surah Al Baqarah dinyatakan tentang pentingnya keimanan kepada hal-hal gaib, dan jin adalah juga bagian dari hal gaib?

Kenapa orang Muhammadiyah mencuekinya, bahkan agaknya sikap demikian lumayan mentradisi dalam alam pikiran warga Muhammadiyah?

Kemudian pelan-pelan saya menemukan beberapa petunjuk menuju jalan terang jawabannya.

Pertama, saya dibantu kawan saya Zulvan Polo. Kata dia, dalam soal kegaiban, orang Muhammadiyah itu hanya membatasi diri dengan Tuhan. Tidak ada urusan wasilah lewat waliyullah dalam berdoa, misalnya. Urusan kegaiban adalah urusan privat terbatas antara seorang hamba dengan Allah. Itu tok.

Lah, kalau urusan dengan waliyullah aja nggak ada, apalagi dengan bangsa jin.

Kedua, ini merupakan konsekuensi lebih jauh dari poin pertama. Selain urusan dengan Gusti Allah, hal-hal yang dijalankan dalam kehidupan adalah hal-hal lahiriah belaka.

Pendidikan adalah urusan lahiriah-rasional di sekolah, antara guru dengan murid, bukan soal santri yang berharap siraman barokah kiai. Kesehatan adalah juga urusan lahiriah-rasional lewat banyak rumah sakit yang dibangun dan dibanggakan warga Muhammadiyah, bukan lewat air yang dibacakan doa (meski soal itu ada dalilnya).

Dengan situasi demikian, opsi-opsi untuk me-metafisik-kan segala hal diluar urusan dengan Tuhan di mata warga Muhammadiyah jadi tampak konyol dan terkesan jauh dari nilai-nilai modern.

Berlandaskan dua faktor yang saya gambarkan itu, tak heran kalau warga Muhammadiyah malas berurusan dengan hantu.

***

Sebenarnya kalau mau dikejar lagi sih kami ini juga tidak akan mengatakan menolak eksistensi jin. Wong ya jin itu memang diakui ada. Tapi yang lebih tepat, orang Muhamadiyah akan mengatakan: “Lho ya jin itu memang ada. Tapi ora urusan!” Hahaha!

Sekali lagi, bagi orang Salafy dan Tarbiyah, jin itu diusir. Bagi orang NU, jin itu dirembuk. Bagi orang Muhammadiyah, jin itu dipaido.

Bila boleh membandingkan, relasi antara orang Muhammadiyah dengan hantu itu mirip relasi antara seorang Marxis dengan alam kubur. Marxis memang pradigmanya murni materialis. Tapi apa ya pernah Marx dan para penerusnya menyatakan dengan tegas ketiadaan alam kubur dan kehidupan setelah mati? Setahu saya tidak. Mereka cuma nggak ada urusan saja dengan itu semua.

Nah, saking tidak ada urusannya orang Muhammadiyah dengan hantu, boro-boro mau berkomunikasi dengan mereka atau membicarakan segala hal tentang mereka, lha wong ngusir mereka aja nggak kepikiran. Itulah kenapa tidak ada pula ajaran semacam ruqyah yang ditradisikan di Muhammadiyah.

Ini sebenarnya buruk untuk perkembangan kemajuan persyarikatan. Sebab kalau ada orang yang kesurupan lalu diruqyah dan jinnya masuk Islam, kemungkinannya jadi kecil sekali si jin mualaf itu akan aktif di Muhammadiyah.

Dan sampai kapan pun Muhammadiyah tidak akan punya struktur kepengurusan di PWMAG, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Alam Gaib.

Penulis Iqbal Aji Daryono
Sumber : dnk.id

Madi
Bukan siapa-siapa. Sekadar berbagi, menampilkan sisi humor Muhammadiyah yang selama ini jarang terekspos.
Top
%d bloggers like this: