You are here
Home > Netijen Sharing > Saat Santri Muhammadiyah Lebaran di Kampung NU

Saat Santri Muhammadiyah Lebaran di Kampung NU

Malam ini Saya bolos Tarawih berjamaah di Masjid, kebetulan ada kawan lama yang hendak berkunjung. Dia lulusan pondok Muhammadiyah. Bisa dilihat dari kemampuannya soal baca kitab. Plegak-pleguk. Hahaha. . .

Setelah nyeruput kopi dan menyalakan benda itu, dia bercerita sesuatu yang dia anggap heroik dalam beragama.

Dulu, saat saya Tsanawiyah, sudah berani berbeda dalam urusan sholat Ied dengan keluarga”, ucap dia dengan tegas.

Saya menyimak. Calon dai kondang je, pasti ceritanya berfaedah.

“Keluarga saya NU. Abah, Emak, Pak Dhe, Bu Dhe. Bahkan ya, Eyang saya yang di Wonosobo sana, hanya menanam tanaman NU”.

“Woh, apa kui?”, tanya saya.

“Lha ini”, sambil dia monyongkan bibirnya.

“Mbako”

“Eeeelhadalahhh. . . “

“Tapi saya itu heran, kenapa Abah lebih memilih menyekolahkan saya di Muhammadiyah”, lanjutnya.

“Mungkin beliau ingin kamu jadi seperti Pak Amien Rais, kalau ngga Abahmu tau, nilaimu hanya bisa nyantol di sekolah Muhammadiyah, ha. . . ha. . . ha. . .”

“Bazeng. . .”

“Eh. . . tadi kamu mau cerita apa, yang beda sholat Ied itu? Kan Muhammadiyah sama NU sama sholat Iednya, 2 rakaat juga?”.

“Jadi gini lho, kan sering tu, Muhammadiyah berbeda sama pemerintah soal penetapan satu syawal. NU juga sarujuk sama pemerintah soal itu”, bull. . .

“Waktu itu libur lebaran. Saya yang santri Muhammadiyah ini bingung. Mau lebaran bareng Muhammadiyah, apa bareng keluarga. Secara lebarannya beda hari”.

“Terus, kamu bagaimana?”, tanya saya menghormati dia.

“Saya kemudian bertanya kepada Abah. Boleh ngga kalau lebaran harinya ikut Muhammadiyah. Sayakan santri Muhammadiyah, Bah”

“Jawab abahmu apa”?

“Abah ngga jawab boleh atau tidak. Beliau diam. Kemudian Abah berbicara pelan”.

“Kamu sudah dewasa, juga sudah banyak belajar ilmu agama”.

“Kemudian, Abah menunjukkan masjid kampung sebelah yang dikelola pengurus Muhammadiyah, setelah itu Abah berlalu”.

“Dari jawaban Abah tadi menunjukkan bahwa saya boleh lebaran sesuai ketetapan Muhammadiyah. Saya ijtihad dong atas jawaban Abah itu”, sruppp. . .

“Sudah Muhammadiyah banget kan saya itu? Sudah berani berijtihad. Pintu ijtihad masih terbuka, ha ha ha. . .”

Kami berdua tertawa.

“Berarti, sepulang sholat Ied, kamu puasa lagi dong, kan belum ada kupat sama opor?”

“Lha itu. Tapi, tantangannya adalah keseokan harinya. Saya harus ngumpet di dalam rumah supaya ngga kelihatan sama tetangga. Nanti saya dikira ngga sholat Ied”.

“Lho, kenapa ngumpet, bukankah orang-orang tau kalau kamu sudah sholat Ied?”.

“Ehh. . . Bukan itu, saya hanya menjaga saja. Jangan sampai urusan ijtihad saya ini bikin geger. Wong ya ngga Sholat Ied saja ngga papa, ya tho? Kan sunnah”?

“Ya kayak kita malam ini, ngga sholat taraweh”, saya langsung nyahut.

“Ha ha ha. . .”, kami berdua tertawa.

“Keesokan harinya, saya diam-diam menuju masjid kampung saat jamaah Sholat Ied mulai. Saya berdiri agak menjauh. Setelah sholat Ied selesai, jamaah berkerumunan saling berjabat tangan, saya ikut nimbrung. Nah, urusan saya dengan masyarakat selesai. Karena wajah saya kelihatan saat saling jabat tangan. Ijtihad saya ikut Sholat Ied dengan Muhammadiyah juga terlaksana. Bisa to saya menjalankan keduanya?”

“Jupuk iwak, tapi ora buthek banyune”. (Ikan bisa terambil, tapi airnya tidak keruh).

“Ya ya ya. . . Pancen calon dai kondang cum aktivis nasional tenan kamu ini”.

Kami berdua tertawa kembali.

Sepulang dia dari rumah, saya membuat catatan kecil ini. Saya kagum dengan dia. Kagum juga dengan Abahnya yang mempercayakan anaknya untuk memilih jalan hidup. Toh Abahnya juga mempunyai andil sejak awal, ketika menyekolahkan dia di sekolah Muhammadiyah.

Sebenarnya, urusan seperti ini akan jadi buah bibir di kampung. Masyarakat kita kadangkala belum bisa menerima keputusan individul.

Tapi ya itu, kalau mau mengambil keputusan yang bersifat individual tapi berbeda dengan masyarakat dan dikhawatirkan menimbulkan masalah -tapi keputusan yang baik lho ya-, kuncinya seperti kata teman saya tadi, bisa memecahkan permasalahan tanpa menimbulkan masalah lain, “jupuk iwak, tapi ora buthek banyune”.

Ini cuma fiksi.

Penulis : Fikri Fadh, Sumber : janasoe.wordpress.com

Madi
Bukan siapa-siapa. Sekadar berbagi, menampilkan sisi humor Muhammadiyah yang selama ini jarang terekspos.
Top
%d bloggers like this: