You are here
Home > Netijen Sharing > Tiga Pelajaran Dari Mohamed Salah (Yang Katanya) Orang Muhammadiyah

Tiga Pelajaran Dari Mohamed Salah (Yang Katanya) Orang Muhammadiyah

Membaca tulisan di ibtimes.id berjudul Ternyata Mohamad Salah Orang Muhammadiyah, saya tergelitik untuk menelusuri kebenaran klaim ini. Sebagai Muhammadiyin, kami harus mengedepankan cek dan ricek terhadap informasi yang beredar di dunia maya dan menghindari taklid buta.

Ekspresi Salah ketika mencetak gol

Dari feature image tulisan ini, terlihat tiga hal yang menguatkan persepsi bahwa Salah memang “lebih dekat” dengan Muhammadiyah daripada Nahdlatul Ulama.

Salah yang bernomor punggung “11” sedang bersujud di lapangan mengindikasikan 3 hal. Pertama, sebelas adalah jumlah rakaat tarawih dan witir Muhammadiyah. Kedua Salah langsung sujud tanpa qunut dan ketiga, sujudnya di lapangan, lokasi dimana Muhammadiyah biasa menggelar Salat Hari Raya.

Namun bukan hal itu inti tulisan ini, setidaknya ada 3 pelajaran dari Mohamed Salah yang bisa kita ambil hikmahnya sembari berlapang dada.

Biografi Singkat Mohamed Salah

Mo Salah, pemain ini biasa disapa. Nama lengkapnya Mohamed Salah Ghaly, pesepakbola profesional berkebangsaan Mesir yang lahir pada tanggal 15 Juni 1992. Pemain ini memang fenomenal, namun semua itu ternyata melalui proses panjang dan berliku. Bakat besar Salah tercium Chelsea pada tahun 2014 sehingga merekrutnya dari FC Basel.

Pelajaran Pertama : Berani Move On

Di klub Liga Inggris pertamanya itu, Salah tidak berhasil menembus tim utama sehingga dipinjamkan ke Italia, tepatnya di Fiorentina dan AS Roma. Selama “menjalani masa pembuangan” di Italia, khususnya di AS Roma, Salah justru berkembang pesat dan menemukan jati diri permainannya.

Pada musim 2017/2018, Salah kembali ke Liga Inggris dan saat ini sampai entah kapan nanti meraih kesuksesan bersama Liverpool. Berbagai penghargaan diraihnya bersama The Kop, termasuk menjuarai Liga Champions Eropa pada musim 2018/2019.

Pelajaran pertama dari Salah, untuk sukses kita harus mengambil keputusan tegas dan berani move on. seandainya Salah tetap di Chelsea dan tidak mampir ke Serie A sebagai “orang buangan” belum tentu kariernya semoncer saat ini.

Pelajaran Kedua : Jadilah Family Man

Pada akhir tahun 2013, Mohamed Salah menikah dengan wanita pujaannya bernama Magi. Bukannya menggelar pernikahan yang eksklusif dan disiarkan live di televisi nasional, Salah justru menggelar pernikahan di desanya dan mengundang seluruh warga untuk hadir. Dilaporkan bahwa ribuan orang menghadiri pernikahannya itu. Bersama Magi, Salah dikaruniai seorang putri bernama Makka, terinspirasi dari kota suci umat Islam.

Pada laga terakhir musim 2018/2019, Liverpool membungkam Wolves dengan skor 2-0. Putri Salah, Makka menjadi pelipur lara fans Liverpool yang “nyaris” menjadi juara Premier League untuk kesekian kalinya. Usai pertandingan, Makka menggiring bola dan menceploskannya ke gawang. Kontan saja ulah menggemaskan Makka menjadi perbincangan di jagat maya.

Salah bersama putri tercinta, Makka

Meskipun belum bergabung dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah UK, kehadiran Salah terbukti memberikan kontribusi positif bagi persyarikatan, umat dan bangsa. Tanpa harus melakukan demo berjilid-jilid, kehangatan Salah dan komunitas Muslim berhasil mengubah persepsi warga Merseyside terhadap Islam. Kejahatan rasial terhadap Muslim dilaporkan menurun sebesar 18,9%. Sejumlah orang juga dilaporkan menjadi Muslim setelah terinspirasi oleh profil Salah.

Pelajaran Ketiga: Salah Tetaplah Manusia Biasa

Sepekan terakhir ini, beredar kabar bahwa Salah berseteru dengan kompatriotnnya di Liverpool, Sadio Mane yang kebetulan seorang muslim juga. Dalam pertandingan melawan Burnley (31/08/2019) yang berkesudahan dengan skor 3-0 untuk kemenangan Liverpool itu, Sadio Mane terlihat marah saat ditarik keluar lapangan pada menit ke 85.

Usut punya usut, beberapa saat sebelumnya ada momen dimana Mane merasa dikecewakan Salah. Mane yang berdiri bebas di depan gawang sedang menunggu umpan dari Salah namun bertepuk sebelah tangan. Alih-alih mengumpan kepada Mane yang lebih berpeluang mencetak gol, ternyata bola ditendang sendiri oleh Salah bukan dengan kaki terkuatnya, sehingga bisa ditangkap dengan mudah oleh kiper Burnley.

Sebagai micin perseteruan ini, komentator sepakbola ian Wright mencatat bahwa Mane telah berkontribusi dalam 43 gol yang dicetak Salah, namun Salah hanya berkontribusi dalam 25 gol yang dicetak Mane. Bagi Mane, barangkali insiden itu seperti pepatah lama air susu dibalas air tuba.

Ya, ternyata Salah juga bisa salah dan memiliki sikap egois seperti manusia pada umumnya.

Penulis : Sam Elqudsy, fans sepakbola yang berharap suatu saat nanti Mohamed Salah pindah ke AC Milan.

Madi
Bukan siapa-siapa. Sekadar berbagi, menampilkan sisi humor Muhammadiyah yang selama ini jarang terekspos.
Top
%d bloggers like this: